Buku Start With Why ditulis oleh Simon Sinek, seorang penulis dan motivator yang namanya udah cukup dikenal di berbagai kalangan. Buku ini pertama kali terbit tahun 2009, dan lahir dari pengalaman pribadi Simon sendiri. Waktu itu, dia lagi ngerasa bener-bener kehilangan arah dalam bisnisnya. Semangatnya turun, tujuan yang dulu dia pegang mulai terasa kabur, dan akhirnya dia mulai bertanya ke diri sendiri:
“Sebenarnya aku ngelakuin semua ini buat apa, ya? Masih ada artinya gak sih?”
Dari titik itulah Simon mulai nyari jawaban. Dia mulai memperhatikan perusahaan-perusahaan dan sosok-sosok pemimpin yang ada di sekelilingnya. Dia penasaran, kenapa ada yang bisa tetap solid dan bikin orang lain termotivasi, sementara yang lain gampang banget hilang arah atau bahkan ambruk? Dari pengamatan dan proses merenung itulah akhirnya Simon nemuin satu pola penting, yang sekarang kita kenal sebagai konsep “Start With Why”.
Idenya sebenarnya sederhana banget. Sebelum mikirin apa yang mau kita kerjain atau gimana caranya, kita harus ngerti dulu kenapa kita ngelakuin itu semua. “Why” di sini bukan cuma sekadar alasan yang kita buat di permukaan, tapi lebih dalam dari itu. Bisa jadi tentang tujuan hidup, nilai yang kita pegang, atau makna yang bikin kita bangun tiap pagi dengan semangat.
Menurut Simon, kebanyakan orang dan organisasi tahu apa yang mereka lakukan, misalnya jual produk atau kasih layanan tertentu. Sebagian juga ngerti gimana cara mereka ngelakuinnya, pakai strategi A atau metode B. Tapi yang benar-benar paham kenapa mereka jalanin itu semua, cuma sedikit banget.
Nah, semua pemikiran, pengalaman, dan pencarian itu akhirnya Simon tuangkan dalam buku ini. Gak cuma buat bisnis atau perusahaan, tapi juga bisa banget kita terapkan dalam hidup pribadi. Karena saat kita udah tahu “kenapa” di balik langkah kita, semuanya jadi terasa lebih jelas, lebih jujur, dan kita pun jalanin hidup dengan arah yang lebih kuat. Dan bukan cuma tentang bisnis aja, lho, tapi juga tentang hidup kita sehari-hari. Lewat buku ini, Simon ngajak kita buat balik bertanya ke diri sendiri: “Aku tuh sebenarnya ngelakuin semua ini buat apa sih?” Karena ketika kita tahu alasan yang paling dalam, semua jadi lebih jelas, lebih bermakna, dan langkah kita pun jadi lebih mantap.
Salah satu inti penting dari buku ini adalah konsep yang Simon sebut "The Golden Circle". Bayangin aja kayak lingkaran dengan tiga lapisan:
• What – Apa yang kita lakukan.
• How – Gimana cara kita melakukannya.
• Why – Kenapa kita melakukannya.
Nah, menurut Simon, kebanyakan orang dan perusahaan cuma berhenti di lapisan paling luar—mereka tahu apa yang mereka kerjakan, dan sebagian tahu gimana caranya. Tapi yang jarang adalah mereka yang bisa jawab dengan jujur: kenapa mereka ngelakuin semua itu?
“Why” ini adalah hal yang mendalam. Bukan sekadar nyari untung, bukan juga ikut tren. Tapi tentang keyakinan, prinsip, atau visi besar yang jadi fondasi dari semua tindakan. Dan menurut Simon, justru organisasi dan pemimpin yang berangkat dari “Why” inilah yang bisa bertahan lama dan benar-benar menginspirasi.
Pemimpin atau organisasi yang mulai dari “Why” punya kekuatan yang beda. Mereka gak cuma sekadar menjual produk, tapi mereka menawarkan makna, nilai, dan visi yang bikin orang percaya. Simon ngasih contoh Apple dalam bukunya, bukan karena produknya aja yang bagus, tapi karena Apple punya prinsip yang kuat. Mereka tahu banget kenapa mereka ngelakuin apa yang mereka lakukan. Dan karena itu, orang percaya sama mereka.
Buku ini cocok banget buat kamu yang lagi mau memulai bisnis, lagi memimpin organisasi, atau bahkan lagi nyari arah hidup. Karena kadang kita terlalu fokus mikirin “apa” dan “gimana”, sampai lupa nanya ke diri sendiri: “kenapa sih aku mau ngelakuin ini?” Nah, buku ini ngajak kita buat mulai dari situ. Dari "why"-nya dulu.
Kalau udah tahu alasan kenapanya, semua yang kita kerjain jadi terasa lebih hidup. Gak cuma sekadar rutinitas, tapi jadi sesuatu yang punya tujuan jelas.